Gedung Menara 165 Suite Office Lantai 4
Jakarta Selatan

Mon – Sat 8.00 – 18.00
Sunday CLOSED
(+62) 81111856060
Free call

Knowledge Base

Pertanian Hijau Belum Tentu Net Zero? Riset Terbaru Mengungkap Fakta Ini

Pernah merasa program TJSL perusahaan Anda sudah “ramah lingkungan”, tapi masih bingung apakah benar-benar membantu menekan krisis iklim? Tenang, Anda tidak sendirian.

Sebuah studi ilmiah besar-besaran yang terbit baru-baru ini (Gokul dkk., 2026) mengupas tuntas hubungan antara pertanian berkelanjutan dan target net zero emission. Hasilnya? Mengejutkan sekaligus menyegarkan.

1. Pertanian yang “Hijau” Belum Tentu Net Zero
Ibaratnya begini: naik sepeda listrik itu lebih bersih dari motor bensin, tapi kalau listriknya dari batu bara, ya belum net zero juga.

Penelitian ini memperkenalkan sebuah indeks menarik yang disebut CNOS (Carbon-Neutrality Orientation Score). Angkanya meningkat sejak 2020—artinya, semakin banyak penelitian yang peduli pada karbon. Tapi jangan senang dulu. Banyak program pertanian berkelanjutan yang masih fokus pada “kesuburan tanah” atau “hasil panen”, tanpa benar-benar menghitung berapa banyak emisi yang dikurangi atau diserap.

2. Indonesia: Bukan Sekadar Pasar, Tapi Pangsa Paling Rentan
Riset ini menemukan bahwa sebagian besar penelitian soal pertanian karbon berasal dari China, AS, dan India. Sementara wilayah seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih minim data.

Kenapa ini penting? Karena setiap wilayah punya karakter tanah, iklim, dan budaya petani yang berbeda. Memaksakan solusi dari negara maju ke lahan kita sama saja seperti memaksakan jaket bulu ke orang yang tinggal di Papua—nggak masuk akal.

Ini justru peluang emas bagi perusahaan yang peduli. Dengan mendukung riset lapangan atau pilot project pertanian karbon di Indonesia, Anda tidak hanya membantu petani lokal, tapi juga membangun data dan kredibilitas yang langka.

3. Masalah Utama: Petani Kecil Sulit Masuk “Pasar Karbon”
Salah satu temuan paling menyentuh dari studi ini adalah soal kesenjangan sosial. Kredit karbon dan pasar karbon terdengar keren, tapi siapa yang paling sulit mengaksesnya? Petani kecil.

Mengapa? Karena biaya verifikasi mahal, prosedurnya rumit, dan petani tidak punya waktu jadi ‘akuntan karbon’. Padahal, mereka justru garda terdepan yang merawat lahan setiap hari. Ini ironis, bukan?

Disinilah peran penting perusahaan untuk tidak hanya membeli kredit karbon dari proyek besar, tapi juga merancang skema karbon inklusif yang melibatkan petani lokal dengan cara yang adil, sederhana, dan saling menguntungkan.

Jadi, Apa yang Bisa Perusahaan Anda Lakukan Hari Ini?
Anda tidak perlu sempurna dari awal. Cukup mulai dengan langkah kecil tapi bermakna:

Evaluasi ulang program TJSL Anda
Apakah hanya kegiatan seremonial atau benar-benar berdampak pada karbon?
Libatkan konsultan yang mengerti lapangan
Bukan sekadar teori, tapi tahu bagaimana kondisi petani dan tanah di Indonesia.
Bangun sistem pengukuran yang jujur
Tidak perlu sempurna, asalkan transparan dan terus belajar.

 

Jihan Khairunnisa
Copywriter & Kontributor

Berdasarkan studi: Gokul, S., et al. (2026). Sustainable agriculture toward carbon neutrality: A quantitative and qualitative assessment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PT Global Sustainability & Digital Consulting merupakan mitra strategis transformasi lingkungan dan CSR berbasis teknologi yang berkelanjutan.

Layanan

Pilar Bisnis

Perusahaan

© 2025 PT Global Sustainability & Digital Consulting. Seluruh hak cipta dilindungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *